Selasa, 15 November 2011

Cara Mencangkok Tanaman Yang Baik

     Para pengunjung situs ini, Anda akan diajarkan bagaimana cara mencangkok tumbuhan yang baik, teknik ini saya dapatkan dari buku "Cangkok Dengan Sukses" terbitan Balai Pustaka. Semoga dapat bermanfaat bagi Anda.

Sediakan peralatan sebagai berikut :
    1. Dua (2) lembar plastik polybag yang telah dilubangi.
    2. Sebuah pisau kecil/pemes/silet
    3. Sebuah guntingan tumbuhan.
    4. Satu meter tali rafia dan dibagi menjadi 2.
    5. Sedikit kapas dan air bersih.
    6. Desinfektan untuk tumbuhan.
    7. Tanah bakar secukupnya.
Setelah itu, ikutilah langkah - langkah berikut :
  1. Pilihlah dahan yang tidak terlalu tua(keras) dan juga tidak terlalu muda
  2. Setelah menemukan dahan yang sesuai, maka kira-kira dengan panjang sekitar 10 cm, kuliti kulit dahan tersebut menggunakan pisau silet
  3. Kuliti dengan hati - hati, dan jangan sampai merusak jaringan penting yang ada pada dahan pohon tersebut
  4. Setelah itu, gunakan basahi kapas dengan air bersih dan bersihkan bagian dahan yang dikuliti tadi
  5. Basahi kapas dengan desinfektan tumbuhan agar dahan tersebut tidak terinfeksi oleh bakteri maupun virus
  6. Letakkan plastik membungkusi dahan bagian bawah, kemudian isi dengan tanah bakar
  7. Bungkus dengan plastik kedua seperti membungkus permen
  8. Ikat kedua ujungnya dengan tali rafia sehingga dapat membungkusi seluruh dahan pohon yang dikuliti tadi
  9. Siramlah cangkokan tersebut dengan sejumlah air bersih
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
    • Kerjakan dengan hati - hati terutama saat menguliti sebab
      • Pembuluh tapis pada tumbuhan jika rusak akan menyebabkan kegagalan pencangkokan
      • Jaringan disekitar bawah kulit tumbuhan sangat lemah dan rentan akan infeksi bakteri maupun virus
    • Pilihlah dahan yang kira-kira memiliki diameter antara 5 cm hingga 7 cm
    • Untuk penyiraman tidak membutuhkan air banyak dan hanya perlu disirami sekali dalam sehari untuk menghindari pembusukan
      Jika Anda mengikuti langkah - langkah diatas, dijamin bahwa hasil cangkokan Anda akan berhasil dalam kurun waktu sekitar 2 bulan.
      Selamat mencoba, semoga berhasil!  ***

Minggu, 13 November 2011

Guru SD Jepara, Juara Menulis Novel Tingkat Jawa Tengah

    Yusuf Afandi, S.Pd.SD., guru SDN 4 Bategede, Nalumsari, Jepara, berhasil meraih juara kedua sayembara menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT). Sayembara ini merupakan program Komite Sastra DKJT tahun 2011.
       Penyerahan hadiah lomba bertempat  di Baturaden, Purwokerto, Jawa tengah, pada tanggal 22 Oktober 2011. 
       Sebagai juara kedua, dengan novel yang berjudul “Pemanah Matahari”, Yusuf Afandi berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar  lima juta rupiah. Sebagai juara pertama adalah Andri Saptono dengan judul “Candik Ayu di Atas PG Colomadu”, mendapatkan tujuh juta limaratus ribu rupiah. Dan juara ketiga Muhammad Zuhri dengan judul “Kota Anjing”, mendapatkan dua juta limaratus ribu rupiah.
       Pemanah Matahari  ini, menurut pengakuannya, diselesaikan dalam waktu kurang lebih empat tahun. Lamanya penyelesaian novel ini, karena pada awalnya novel ini ditulis bukan semata-mata untuk mengikuti sayembara, tapi hanya untuk mengisi waktu luangnya di malam hari, setelah siangnya mengajar di sekolah. Itupun tidak setiap malam dikerjakannya. Bahkan, kadang-kadang berminggu-minggu tidak pernah disentuhnya.  Apalagi jika banyak kesibukan lain, yang membuatnya kurang bisa berkonsentrasi.  Kesibukan lain yang digemarinya adalah menulis di Blog. Yusuf sekarang mengelola tiga blog, yaitu blog pribadi, SDN 4 Bategede dan PPK Kecamatan Nalumsari untuk Pilbup Jepara 2012.
     Selain mempunyai hobi menulis, Yusuf Afandi  juga gemar bermain catur. Yusuf adalah juga seorang atlit catur Kabupaten Jepara, dan sudah mendapatkan gelar Master Percasi. Yusuf juga pernah memperkuat Jateng, pada tahun 2003, sebagai atlit catur cepat. 
Yusuf juga melatih catur di Kecamatan Nalumsari, baik untuk atlit catur yunior maupun senior, untuk persiapan POPDA SD dan PORKAB Jepara. Dan, juga melatih bermain catur secara gratis, untuk siswa SD dan SMP di rumahnya. 
Pada POPDA Tingkat Kabupaten Jepara, beberapa anak didiknya, Burhanudin juara II (2008) dan Yulio Anugerah Agung juara III (2009) dari SDN 1 Bategede, Fahmi juara III (2010) dari SDN 2 Pringtulis. Dan pada POPDA SD 2011 dan Kejurprov Jateng 2011, salah satu anak didiknya Diana Rofiah (SDN 4 Bategede) berhasil meraih juara satu tingkat Kabupaten Jepara dan juara empat tingkat Provinsi Jawa Tengah.
            Sebelum bertugas di Kabupaten Jepara, Yusuf bertugas di SDN 5 Jambu, Taba Penanjung, Bengkulu Utara,  Provinsi Bengkulu, tahun 1993 s.d. 2002. 
       Selama bertugas di Bengkulu, Yusuf juga aktif  menulis di surat kabar lokal, bermain catur dan berkecimpung dalam dunia kependidikan.
         Dalam catur, kenangan manis yang tak pernah bisa dilupakannya adalah ketika bertanding catur di Provinsi Jambi, mewakili Bengkulu, Juni 1997, dalam rangka PORWIL se-Sumbagsel ( Lampung, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan ), Yusuf meraih medali emas.
Dalam dunia pendidikan, pada bulan November 1997 saat dikirim ke PPPG Parung Bogor, mewakili Provinsi Bengkulu, dalam post test Diklat Kemampuan Metodologi Pembelajaran, Yusuf berhasil  mendapatkan peringkat 9 (sembilan) dari 102 peserta, dari seluruh wakil provinsi di Indonesia. 
Pada tahun 1999, lulus seleksi ujian yang diadakan Kanwil Depdikbud Provinsi Bengkulu, untuk menjadi Instruktur Tingkat Provinsi Bengkulu, program Basic Educational Project (BEP) yang dibiayai oleh Bank Dunia, 1999 s.d. 2001,  untuk Mata Pelajaran Matematika. Dan menjadikannya sebagai anggota Tim Instruktur untuk SD/MI Provinsi Bengkulu termuda. 
Kepindahannya ke Kabupaten Jepara,  Juni 2002, membuat karirnya dimulai dari nol lagi. Tapi, Yusuf tetap mensyukurinya.  “Semua pasti ada hikmahnya, dan yang pasti lebih dekat dengan keluarga”, katanya.
           Suami dari Rubiyati, dan ayah dari dua putra: Yusby dan Yulio ini mempunyai motto;    “Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, dengan apa yang dimiliki, di mana pun berada. “  Dan “ Pekerjaan yang besar tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan, tetapi dengan kegigihan”. 


       Dalam kesempatan ini, Yusuf mengucapkan terima kasih kepada istri dan anak-anaknya yang telah mendukung pembuatan novel ini hingga selesai. Dan ucapan terima kasih juga disampaikan Yusuf kepada Pemerintah Kabupaten Jepara dan rekan-rekan seperjuangan yang tidak bisa disebutkan satu persatu, atas dukungan dan ucapan selamat yang telah diterimanya. Mudah-mudahan, semua ini bisa meningkatkan semangat dan motivasinya untuk lebih berprestasi lagi di kemudian hari. Amin. ***

Jumat, 28 Oktober 2011

Menciptakan Mental Juara Pada Anak/Siswa

Sering kali kita melihat anak yang tidak mempunyai semangat untuk ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau mempunyai standar yang rendah bagi dirinya sendiri. Hal tersebut merupakan menjadi kendala kesukseksan diri pada anak terutama di masa dewasa atau dapat dikatakan tidak mempunyai mental juara. Mempunyai mental juara tanpa perlu menjadi ambisius bukanlah sesuatu yang instan. Ada proses pembiasaan yang perlu dilakukan sejak dari masa kanak-kanak.
Beberapa pengertian bermental juara antara lain:
§ Bermental juara tidak hanya merujuk pada anak yang mampu memenangkan kompetisi atau lomba tertentu. Anak bisa dikatakan bermental juara pada saat dia berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari oleh para orangtua maupun anak.
Cara yang dapat ditempuh untuk memiliki mental juara ini adalah dengan mengajari anak untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang anak miliki. Orangtua harus membantu anak untuk berhasil dalam setiap langkah atau apapun yang anak lakukan.
§ Bermental juara juga dapat berarti anak yang tangguh menghadapi segala tantangan. Anak perlu ditempa untuk siap menghadapi tantangan dan menjadi anak yang mandiri. Cara membentuk mental juara pada anak adalah dengan tidak selalu membantu anak, tidak selalu menganggap anak masih kecil. Orangtua perlu menyadari kapan anak perlu dibantu dan kapan anak bisa dilepas untuk memecahkan masalahnya sendiri. Selain itu orangtua juga perlu menanamkan motivasi dari dalam diri anak sehingga anak tidak selalu harus disuruh dan ditentukan oleh lingkungannya dalam melakukan sesuatu.
§ Bermental juara dapat berarti juga anak yang mampu menghadapi kekalahan. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. Di sini anak perlu belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi ketidakberhasilan.
Manfaat Mental Juara
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembentukan mental juara pada anak antara lain:
§ Anak menjadi mandiri, tidak tergantung pada orang lain.
§ Anak menjadi percaya diri dalam melakukan segala sesuatu.
§ Anak tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi apabila mengalami kegagalan.
§ Anak menjadi pribadi yang terbiasa memecahkan masalah.
Aspirasi vs Ambisi
Konsep membentuk mental juara bukanlah dengan menuntut anak untuk selalu menjadi juara. Orangtua harus hati-hati agar memotivasi anak tidak dilakukan dengan cara memaksa. Seringkali orangtua merasa bangga saat anak memenangkan sesuatu, sehingga yang dikejar adalah hasil, bukan proses. Hal tersebut yang bisa menciptakan anak ambisius, di mana anak hanya akan berorientasi pada pencapaian hasil. Apabila anak memahami pentingnya proses maka akan tercipta aspirasi di dalam diri anak. Anak yang memiliki aspirasi akan terinspirasi dan termotivasi untuk senantiasa melakukan yang lebih baik lagi.
Pada anak yang ambisius, anak akan sangat keras berusaha mencapai sesuatu akan tetapi di lain pihak anak akan cepat puas dan bangga pada yang diperolehnya dan berhenti hanya sampai di situ. Berbeda dengan aspirasi yang bersifat jangka panjang dibanding ambisi. Hal terpenting bukanlah menjadi juaranya, tetapi bagaimana usaha anak untuk mencapainya. Anak tidak harus selalu menjadi juara, tetapi menjadi lebih baik dari yang dia lakukan selama ini. Sehingga anak lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan.
Latih Mental Juara Sejak Dini
Mental juara dapat dibentuk dan dilatih orangtua sejak kecil, terutama begitu anak mulai berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Menurut teori Erickson, tahun-tahun pertama merupakan tahun pembentukan dasar kepribadian anak kelak, dan dalam hal ini lingkungan sosial amat berpengaruh. Berikut ini tahap perkembangan anak dalam melatih mental juara:
§ Awal kehidupan anak ditandai dengan adanya trust (percaya) dan mistrust (ketidakpercayaan).
Trust atau rasa percaya menunjukkan adanya perasaan kenyamanan fisik dan sedikit rasa takut. Trust di masa kanak-kanak membentuk harapan dalam kehidupan bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman. Jika anak tidak merasa nyaman dengan lingkungannya maka yang berkembang adalah rasa mistrust.
Dalam membentuk mental juara dan memotivasi anak harus mementingkan kenyamanan dan kebahagiaan anak, dengan cara-cara yang fun, jangan sampai anak merasa terpaksa dan tidak enjoy terhadap apa yang dilakukannya.
§ Pada usia 1-3 tahun ditandai dengan autonomy (otonomi atau kebebasan pribadi), shame (rasa malu) dan doubt (ragu-ragu).
Pada masa ini anak mulai menemukan dan mengembangkan tingkah lakunya. Jika anak diberi kesempatan untuk mencoba maka akan muncul otonomi. Tetapi jika anak banyak diarahkan dan dilarang maka anak akan menjadi anak yang pemalu atau ragu-ragu. Pada usia ini cukup ideal untuk melepas anak memecahkan masalahnya sendiri, yang merupakan salah satu cara membentuk mental juara.
§ Pada masa anak-anak awal yaitu usia 3-5 tahun ditandai dengan initiative (inisiatif) dan guilt (rasa bersalah).
Masa ini muncul di usia prasekolah, di mana kehidupan sosial anak sudah lebih berkembang. Saat anak mulai aktif, banyak perilaku perlu dikembangkan agar anak bsa mengatasi atau beradaptasi dengan lingkungannya.
Anak belajar untuk bertanggungjawab atas berbagai hal, misalnya menjaga barang-barang milik anak sendiri. Berkembangnya rasa tanggung jawab akan menanamkan rasa inisiatif pada anak. Sebaliknya akan muncul anak yang memiliki rasa bersalah dan cemas karena tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri. Pengalaman dari lingkungan akan menjadikan anak memiliki rasa percaya pada dunianya, mandiri, penuh inisiatif, dan siap menghadapi apapun dalam dunianya. Hal-hal inilah yang merupakan esensi mental juara.
Hal yang Perlu Diwaspadai
Dalam membentuk mental juara serta memotivasi anak ada beberapa hal yang perlu diwaspadai yaitu:
§ Anak yang selalu atau sangat sering menjadi juara kerap menjadi lebih down ketika mengalami kegagalan. Terlebih lagi jika orang-orang di sekitarnya bersifat menyalahkan, anak bisa merasa tidak berharga dan tidak dicintai lagi karena sudah gagal. Hal tersebut yang biasanya terjadi apabila orangtua dan lingkungan anak lebih mengutamakan hasil daripada proses, akibatnya penghargaan diri anak menjadi relatif rendah.
§ Munculnya sifat angkuh atau sombong pada anak yang sering menjadi juara. Sekecil apapun pencapaian anak perlu dihargai. Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangan anak perlu dievalusi dan dicari solusinya. Pujian maupun evaluasi hendaknya diberikan secara proporsional. Dengan demikian anak tidak menjadi sombong tetapi masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang.
§ Adanya sifat individualis anak perlu dihindari ketika menanamkan mental juara. Anak bermental juara justru mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang menghargai dirinya sendiri berdasar proses, biasanya juga akan menghargai orang lain. Anak perlu diajarkan memahami siapa dirinya, mengetahui apa kelebihan dan kelemahan dirinya sehingga anak akan tahu perannya, apa yang dia miliki, dan apa yang dia bisa lakukan. Bila hal tersebut sudah tercapai, anak akan bisa mandiri tanpa melupakan hakikatnya sebagai makhluk sosial.
§ Membanding-bandingkan anak dengan temannya sama sekali bukan cara ideal untuk memotivasi anak. Yang bisa dibandingkan adalah pencapaian yang dilakukan anak, misalnya nilai anak yang lebih bagus saat dia rajin belajar dibandingkan saat dia malas-malasan. Itupun harus disampaikan dengan alasan-alasan yang logis dan bukti-bukti, secara tegas namun tidak terkesan menyalahkan anak.
Mental juara pada anak dapat dibentuk atau dilatih oleh siapapun, termasuk dari orangtua yang pernah gagal atau tidak terlalu sukses. Apabila orangtua bisa memiliki kepribadian yang positif dan memiliki motivasi serta keinginan untuk mengembangkan anaknya dalam lingkungan yang sehat dan tidak ada paksaan, diharapkan anak bisa tangguh menghadapi tantangan dan mempunyai mental juara karena setiap anak mampu menjadi juara.***

Rabu, 26 Oktober 2011

Cara Merawat Buku Supaya Awet/Tidak Cepat Rusak

1. Pastikan tempat buku tidak lembab dan memiliki sirkulasi udara yang memadai. Untuk mendapatkan udara yang cukup, tempat buku harus memiliki jendela atau lubang keluar-masuk udara secara cukup.

2. Usahakan letak buku tidak berdekatan dengan lantai. Artinya tempat buku jangan di bagian paling bawah lemari. Pilihlah tempat yang memungkinkan buku enak dilihat dan mudah dijangkau. Pilihan bisa di bagian tengah atau atas.

3. Posisi buku sebaiknya berdiri dan berjajar ke samping. Posisi ini memungkinkan udara masuk ke sela-sela buku lewat celah lembaran. Jika posisi buku bertumpuk dikhawatirkan udara tidak bisa masuk dan mempercepat kelembaban.

4. Taburlah kamper di sela-sela buku atau di pojok-pojok lemari. Fungsi kamper untuk mengusir ngengat dan mengurangi bau tak sedap.

5. Lakukan rotasi posisi buku setiap dua pekan sekali. Jika memungkinkan keluarkanlah buku-buku dari lemari dan letakan selama sehari di luar lemari. Bisa di atas meja atau di ruang terbuka yang tidak lembab.

6. Tak ada salahnya memberi lampu khusus dalam lemari buku hingga buku mendapat cahaya yang cukup. Sinar lampu menghambat ngengat masuk ke sela-sela buku.

  

7. Cara paling aman adalah membungkus buku dalam kemasan plastik dan ditaburi kamper.

  


8. Khusus buku langka berusia di atas 100 tahun yang lengket antar satu halaman dengan halaman lain tidak perlu dipaksa memisahkannya. Ada cara tersendiri. Rendamlah kertas yang lengket itu ke dalam air selama setengah jam. Lalu angkat dan angin-anginkan di tempat sejuk. Jangan sekali-kali menjemur di bawah terik matahari agar kertas tidak bergelombang setelah kering.***